Model Keperawatan: Teori Konservasi Levine

Theory is the poetry of science. The poet’s words are familiar each standing alone, but brought together they sing, they astonish, they teach. The theorist offers a fresh vision, familiar concepts brought together in bold, new designs the theorist and poet seek excitement in the sudden insights that make ordinary experience extraordinary, but theory caught in the intellectual exercises of the academy becomes alive only when it is made a true instrument of persuasion. (Levine, 1995, p. 14)

Sejak Florence Nightingale meletakan pondasi keperawatan pada catatannya (Notes on Nursing), teori  dan model tentang profesi keperawatan terus berkembang. Di antaranya yang sangat kita kenal adalah teori Dorothea Orem tentang ‘self-care Framework’,  Sr.Callista Roy tentang ‘Adaptation Model’, Jean Watson tentang ‘Theory of Human Caring’.  Pada kesempatan kali ini, saya ingin menggali lebih lanjut tentang teori ‘Conservation Model’ oleh Myra Levine’s yang diselesaikan pada 1973.

BIOGRAFI


Myra Estrin Levine (1920-1996) lahir di Chicago, Illinois. Ia adalah anak tertua dari tiga bersaudara. Levine mengembangkan minat dalam perawatan karena ayahnya sering sakit (mengalami masalah gastrointestinal) dan memerlukan perawatan. Levine lulus dari Cook County School of Nursing tahun 1944 dan memperoleh gelar Bachelor Science of Nursing (BSN) dari University of Chicago pada tahun 1949. Setelah lulus, Levine bekerja sebagai perawat sipil untuk US Army, sebagai supervisor perawat bedah, dan administrasi keperawatan. Setelah mendapatkan gelar Master Science of Nursing (MSN) di Wayne State University pada tahun 1962, ia mengajar keperawatan di berbagai lembaga (George, 2002) seperti University of Illinois di Chicago dan Tel Aviv University di Israel. Levine menulis 77 artikel yang dipublikasikan yang termasuk artikel “An Introduction to Clinical Nursing” yang dipublikasikan berulang kali pada tahun pada tahun 1969, 1973 & 1989. Ia juga menerima gelar doktor kehormatan dari Loyola University pada tahun 1992. Levine meninggal pada tahun 1996.
Levine pribadi menyatakan bahwa ia tidak bertujuan khusus untuk mengembangkan ‘teori keperawatan’,  tetapi ingin menemukan cara untuk mengajarkan konsep-konsep utama dalam Keperawatan Medikal Bedah dan berusaha untuk mengajarkan siswa keperawatan sebuah pendekatan baru dalam kegiatan keperawatan. Levine juga ingin berpindah dari praktek keperawatan pendidikan yang  mernurutnya sangat prosedural dan kembali fokus pada pemecahan masalah secara aktif dan perawatan pasien (George, 2002).

  1. A. Model Konservasi Levine

Model konservasi levine merupakan Keperawatan praktis dengan konservasi model dan prinsip yang berfokus pada pelestarian energi pasien untuk kesehatan dan penyembuhan. Adapun prinsip konservasi tersebut adalah sbb:

1. Konservasi Energi

Individu memerlukan keseimbangan energi dan memperbaharui energi secara konstan untuk mempertahankan aktivitas hidup. Konservasi energi dapat digunakan dalam praktek keperawatan.

2. Konservasi Integritas Struktur

Penyembuhan adalah suatu proses pergantian dari integritas struktur. Seorang perawat harus membatasi jumlah jaringan yang terlibat dengan penyakit melalui perubahan fungsi dan intervensi keperawatan.

3. Konservasi Integritas Personal

Seorang perawat dapat menghargai klien ketika klien dipanggil dengan namanya. Sikap menghargai tersebut terjadi karena adanya proses nilai personal yang menyediakan privasi selama prosedur.

4. Konservasi Integritas Sosial

Kehidupan berarti komunitas social dan kesehatan merupakan keadaan social yang telah ditentukan. Oleh karena itu, perawat berperan menyediakan kebutuhan terhadap keluarga, membantu kehidupan religius dan menggunakan hubungan interpersonal untuk konservasi integritas social.

TIGA KONSEP UTAMA DARI MODEL KONSERVASI


1. Wholeness (Keutuhan)

Erikson dalam Levine (1973) menyatakan wholeness sebagai sebuah sistem terbuka: “Wholeness emphasizes a sound, organic, progressive mutuality between diversified functions and parts within an entirety, the boundaries of which are open and fluent. (Keutuhan menekankan pada suara, organik, mutualitas progresif antara fungsi yang beragam dan bagian-bagian dalam keseluruhan, batas-batas yang terbuka)”  Levine (1973, hal 11) menyatakan bahwa “interaksi terus-menerus dari organisme individu dengan lingkungannya merupakan sistem yang ‘terbuka dan cair’, dan kondisi kesehatan, keutuhan, terwujud ketika interaksi atau adaptasi konstan lingkungan, memungkinkan kemudahan (jaminan integritas) di semua dimensi kehidupan”. Kondisi dinamis dalam interaksi terbuka antara lingkungan internal dan eksternal menyediakan dasar untuk berpikir holistik,  memandang individu secara keseluruhan.

2. Adaptasi

Adaptasi merupakan sebuah proses perubahan yang bertujuan mempertahankan integritas individu dalam menghadapi realitas lingkungan internal dan eksternal. Konservasi adalah hasil dari adaptasi. Beberapa adaptasi dapat berhasil dan sebagian tidak berhasil.

Levine mengemukakan 3 karakter adaptasi yakni: historis, spesificity, dan redundancy. Levin menyatakan bahwa setiap individu mempunyai pola respon tertentu untuk menjamin keberhasilan dalm aktivitas kehidupannya yang menunjukkan  adaptasi historis dan spesificity. Selanjutnya pola adaptasi dapat disembunyikan dalam kode genetik individu. Redundancy menggambarkan pilihan kegagalan yang terselamatkan dari individu untuk menjamin adaptasi. Kehilangan redundancy memilih apakah melalui trauma, umur, penyakit, atau kondisi lingkungan yang membuat individu sulit mempertahankan hidup.

a. Lingkungan

Levine memandang setiap individu  memiliki lingkungannya sendiri baik lingkungan internal maupun eksternal. Perawat dapat menghubungkan lingkungan internal individu dengan aspek fisiologis dan patofisiologis, dan lingkungan eksternal sebagai level persepsi, opersional dan konseptual. Level perseptual melibatkan kemampuan menangkap  dan  menginterpretasi dunia dengan organ indera. Level operasional terdiri dari segala sesuatu yang mempengaruhi individu secara fisiologis meskipun mereka tidak dapat mempersepsikannya secara langsung, seperti mkroorganisme. Pada konseptual level, lingkungan dibentuk dari pola budaya, dikarakteristikkan dengan keberadaan spiritual, dan ditengahi oleh simbol bahasa, pikiran dan pengalaman.

b. Respon organisme

Respon organisme adalah kemampuan individu untuk beradaptasi dengan lingkungannya, yang bisa dibagi menjadi  fight atau flight, respon inflamasi, respon terhadap stress, dan kewaspadaan persepsi.

1)        Fight-flight merupakan respon yang paling primitif dimana ancaman yang diterima individu baik nyata maupun tidak, merupakan respon terhadap ketakutan melalui menyerang atau menghindar hal ini bersifat reaksi yang tiba-tiba. Respon yang disampaikan adalah kewaspadaan untuk mencari informasi untuk rasa aman dan sejahtera.

2)        Respon peradangan atau inflamasi merupakan mekanisme pertahanan yang melindungi diri dari lingkungan yang merusak, merupakan cara untuk menyembuhkan diri, respon individu adalah menggunakan energi sistemik yang ada dalam dirinya untuk membuang iritan atau patogen yang merugikan, untuk hal ini sangat dibutuhkan kontrol lingkungan.

3)        Respon terhadap stress menghasilkan respon defensif dalam bentuk perubahan yang tidak spesifik pada manusia, perubahan structural dan kehilangan energi untuk beradaptasi secara bertahap terjadi sampai rasa lelah terjadi, dikarakteristikkan  dengan pengaruh yang menyebabkan pasien atau individu berespon terhadap pelayanan keperawatan.

4)        Kewaspadaan perceptual, respon sensori menghasilkan kesadaran persepsi, informasi dan pengalaman dalam hidup hanya bermanfaat ketika diterima secara utuh oleh individu, semua pertukaran energi terjadi dari individu ke lingkungan dan sebaliknya. Hasilnya adalah aktivitas fisiologi atau tingkah laku. Respon ini sangat tergantung kepada kewaspadaan perceptual individu, hanya terjadi saat individu menghadapi dunia (lingkungan) baru disekitarnya dengan cara mencari dan mengumpulkan informasi dimana hal ini bertujuan untuk mempertahankan keamanan dirinya.

c. Trophicognosis

Levine merekomendasikan trophicognosis sebagai alternatif untuk diagnosa keperawatan. Ini merupakan metode ilmiah untuk menentukan sebuah penentuan rencana keperawatan.

3. Konservasi

Levine menguraikan model Konservasi sebagai inti atau dasar teorinya. Konservasi menjelaskan suatu system yang kompleks yang mampu melanjutkan fungsi ketika terjadi tantangan yang buruk. Dalam pengertian Konservasi juga, bahwa individu mampu untuk berkonfrontasi dan beradaptasi demi mempertahankan keunikan mereka.

Aplikasi Pada Proses Keperawatan

Proses Keperawatan Levin dengan menggunakan pemikiran kritis (Tomey, 2006)

Proses Pembuatan keputusan
Pengkajian

 

Mengumpulkan  data provokatif melalui wawancara dan observasidengan menggunakan prinsip konservasi

  1. Konservasi energi
  1. Integritas struktur
  2. Integritas personal
  3. Integritas sosial

 

 

Perawat mengobservasi pasien dengan melihat respon organisme teradap penyakit, membaca catatan medis, evaluasi hasil diagnostik dan berdiskusi dengan pasien tentang kebutuhan  akan bantuannya.n

Perawat mengkaji pengaruh lingkungan eksternal dan internal pasien dengan prinsip konservasi.

Fakta provokatif  yang perlu dikaji:

  1. Keseimbangan suplai dan kebutuhan energi
  2. Sistem pertahanan tubuh
  3. harga diri
  4. Kesiapan seseorang dalam berpartisipasi dalam sosial sistem

 

Keputusan à Tropihicognosis

 

Diagnosa keperawatan à menyimpulkan fakta provokatif

 

Fakta provokatif disusun sedemikian rupa untuk menunjukkan kemungkinan dari kondisi pasien. Sebuah kep utusan mengenai bantuan yang dibutuhkan pasien dibuat . Keputusan ini disebut tropihicognosis

 

Hpotesis

 

Mengarahkan intervensi keperawatan dengan tujuan untuk keutuhan dan promosi adaptasi

 

Berdasarkan keputusan, perawat memvalidasi masalah pasien, lalu mengemukakan hipotesis tentang masalah dan solusinya. Ini disebut rencana keperawatan.

Intervensi

 

Uji hipotesis

 

Perawat menggunakan hipotesis untuk memberi arah dalam melakukan perawatan.

Intervensi dilakukan berdasarkan prinsip konsevasi, yaitu konservasi energi, struktur, personal dan sosial.

Pendekatan ini diharapkan mampu mempertahankan keutuhan dan promosi adaptasi.

Evaluasi

 

Observasi repon organisme terhadap intervensi

 

Hasil dari uji hipotesa dievaluasi dengan mengkaji respn organisme apakah hipotesis membantu atau tidak.

KETERBATASAN TEORI

Meskipun kelengkapan dan aplikasi teori Levine luas, model ini bukan tanpa batasan. Sebagai contoh model konservasi Levine berfokus pada penyakit yang bertentangan dengan kesehatan; demikian, intervensi keperawatan dibatasi hanya untuk mengatasi kondisi penyajian individu. Oleh karena itu, intervensi keperawatan berdasarkan teori Levine adalah berfokus pada saat ini dan jangka pendek, dan tidak mendukung prinsip-prinsip promosi kesehatan dan pencegahan penyakit, meskipun ini adalah komponen penting dari praktek keperawatan saat ini. Dengan demikian, keterbatasan utama adalah fokus pada individu dalam keadaan sakit dan pada ketergantungan pasien. Selanjutnya, perawat memiliki tanggung jawab untuk menentukan kemampuan pasien untuk berpartisipasi dalam perawatan, dan jika persepsi perawat dan pasien tentang kemampuan pasien untuk berpartisipasi dalam perawatan tidak cocok, ketidakcocoka ini akan menjadi daerah konflik.

Selain itu, ada beberapa keterbatasan ketika ke empat prinsip Conservational Model diterapkan:

  1. Konservasi energi, Levine tujuan adalah untuk menghindari penggunaan energy yang berlebihan atau kelelahan. Hal ini diatur dalam perawatan sakit samping tempat tidur klien. Dalam kasus di mana kebutuhan energi untuk digunakan dari pada seperti pada pasien mania, ADHD (Attention-Deficit Hyperactivity Disorder) pada anak-anak atau mereka dengan gerakan terbatas seperti klien lumpuh, teori Levine itu tidak berlaku.
  2. Pada konservasi integritas struktural, fokusnya adalah untuk melestarikan struktur anatomi tubuh serta untuk mencegah kerusakan struktur anatomi. Ini, sekali lagi, memiliki keterbatasan. Dalam kasus-kasus dimana struktur anatomis tidak begitu sempurna tapi tanpa diidentifikasi cacat atau masalah seperti dalam operasi plastik, prosedur seperti perangkat tambahan payudara dan liposuctions; integritas struktural seseorang dikompromikan tetapi pilihan pasien mencari kecantikan fisik dan kepuasan psikologis yang dibawa ke pertimbangan. Jika tidak demikian, prosedur tidak boleh dipromosikan.
  3. Pada konservasi integritas personal, perawat diharapkan memberikan pengetahuan dan kebutuhan pasien harus dihormati, dilengkapi dengan privasi, didorong dan psikologis didukung. Keterbatasan di sini akan berpusat pada klien yang secara psikologis terganggu dan lumpuh dan tidak bisa memahami dan menyerap pengetahuan, pasien koma yaitu, individu atau klien bunuh diri.
  4. Tujuan konservasi integritas sosial adalah untuk melestarikan dan pengakuan dari interaksi manusia, terutama dengan klien, orang lain yang signifikan yang terdiri dari sistem dukungannya. Keterbatasan khusus untuk ini, adalah ketika klien tidak memiliki orang lain yang signifikan seperti ditinggalkan anak-anak, pasien psikiatris yang tidak mampu berinteraksi, klien tidak responsif seperti orang tak sadar, fokus di sini adalah tidak lagi pasien sendiri namun orang-orang yang terlibat dalam perawatan kesehatannya.

Kepustakaan:

Añonuevo, C. A., et al. (2005). Theoretical foundations of nursing. University of the Philippines Open University: Quezon City, Philippines.

Current Nursing. (n.d.). Nursing theories: Levine’s four conservation principles. Diunduh dari http://currentnursing.com/nursing_theory/Levin_four_conservation_principles.htm pada bulan September 2010.

DeBruin, Debra A. (2004). Looking Beyond the Limitations of “Vulnerability”: Reforming Safeguards in Research. The American Journal of Bioethics, 1536-0075, Volume 4, Issue 3, 2004, Pages 76 – 78

George, J. B. (2002). Nursing theories: Base for professional nursing. (5th ed). Pearson Education.

Leach, M.J. (n.d.) Wound management: Using Levine’s Conservation Model to guide practice. Vol. 52, Issue No. 8. Diunduh dari: http://www.o-wm.com/article/6024 pada bulan September 2010.

Levine, M. E. (1967). The four conservation principles of nursing. Nursing Forum, 6(1), 45-49.

Levine, M. E. (1967). This I believe: About patient centered care. Nursing Outlook, 15(4), 53-55.

Levine, M. E. (1973). Introduction to clinical nursing. F. A. Davis Company: Philadelphia, PA.

Tomey, A. M. & Alligood, M. R. (2006). Nursing theorists and their work. (6th ed.). Elsevier Health Sciences.

Tomey, A. M. & Alligood, M. R. (2006). Nursing Theory : utilization & application. Missouri : Mosby

*gambar diambil dari Understanding The Work of Nurse Theorist

Falsafah Keperawatan: Menurutmu?

Sebelum menjabarkan definisi falsafah keperawatan, maka sebaiknya kita memahami definisi filsafat ilmu terlebih dahulu. Saat keperawatan diperdebatkan sebagai suatu ilmu oleh Edward, shrock memberikan salah satu jawaban yang cukup baik tentang definisi filsafat  “philosophy is an attitude toward life and reality that evolves from each nurses beliefs …”(Edwards, 1997, 1089).[i]

Dari definisi tersebut, maka kami memutuskan bahwa keperawatan merupakan keduanya: suatu ilmu sekaligus seni. Untuk menjadi seorang perawat yang sukses harus dapat memberikan “seni” dalam merawat, dan memiliki dorongan untuk terus mencapai dan menerapkan pengetahuan “ilmu” sepanjang karirnya.

Keperawatan adalah suatu seni. Ditulis dalam teks Florence Nightingale (1820-1910) dan UE Nissen (1834-1892), perawat diperbandingkan dengan seni dalam arti kiasan. Teori Florence tidak mengacu pada seni dalam pengertian seni rupa atau semacamnya, melainkan mengacu pada kualitas keperawatan. Nissan mengajukan pertanyaan dalam bukunya mengenai apakah tingkatan yang paling baik dalam praktek keperawatan? (Austgard, 2006, 16) [ii]Nissan yang memfokuskan jawabannya pada caring. Teori ini diikuti oleh Benner. Dalam bukunya Novice to Expert Benner menyatakan, “ One way to separate the instrumental and expressive aspects of nursing is to regulate caring as the art of nursing” (Benner, 1984, 170)[iii]. Tanpa caring perawat tidak dapat terhubung dengan pasien. Tanpa terhubung dengan pasien, hubungan saling percaya tidak akan terbentuk. Tanpa hubungan saling percaya, keperawatan terapeutik tak akan terjadi. Oleh karena itu, caring merupakan inti dari keperawtan. Ini bukan untuk mengecilkan nilai ilmu pengetahuan. Seorang perawat yang kompeten harus dapat menggunakan sumber daya teknis yang tersedia. perawat harus memiliki pengetahuan tentang anatomi dan fisiologi tubuh manusia, patologi dan sumber terkini untuk terapi farmakologi. Ini merupakan body of knowledge pengetahuan yang terus berkembang.Selain itu, Sains juga mencakup keterampilan yang dibutuhkan untuk melakukan tugas teknis. Benner dalam bukunya Novice menjelaskan pada para ahli mengenai hakikat ilmu di balik akuisisi keterampilan.Sebagai perawat kita semua harus membangun keberlangsungan untuk menjadi ‘ahli’ di di masing-masing dari tujuh domain kompetensi.

Hal ini dikemukakan serupa oleh Maryne Estrin Levine. Levine mendefinisikan perawat sebagai berikut:

Nursing is human interaction.Nursing knowledge, thoroughly grounded in modern scientific concepts, allows for a sensitive and productive relationship between the nurse and the individual entrusted to her care. In the care of the sick, this has always been true, but never before has there been available to the nurse so rich and demanding a body of knowledge to use in the patient’s behalf —Myra Levine (1973, p. 1)

Model Levine berfokus pada individual sebagai makhluk holistic dan area utama yang menjadi konsern perawat dalam memelihara keutuhan seseorang (person’s wholeness). Tindakan keperawatan dalam model ini berdasarkan empat prinsip konservasi energy, integritas structural, integritas personal, dan integritas social.

Nah, sekarang apa falsafah keperawatan menurutmu?

I am a nurse. It is my duty to learn all the knowledge I
possibly can so that I might attain the goal of preserving health. It is my desire to make myself accessible to all peoples so that health becomes a goal of theirs too. I believe in God. I believe in the quality of life, and the integrity of humanity. I believe in being nonjudgmental, and I believe in the rights of humans. I believe in my profession. I believe in being a Nurse.


[i] Edwards, S. D. (1997). What is philosophy of nursing? Journal of Advanced Nursing, 25, 1089-1093. Diakses dari http://www.journalofadvancednursing.com/default.asp?file=guidetheoretical pada tanggal 24 September 2010

[ii] Austgard, K. (2006). The aesthetic experience of nursing. Nursing Philosophy, 7, 11-19.

[iii] Benner, P. (1984). From novice to expert: excellence and power in clinical nursing practice (2 ed.). Menlo Park, CA: Addison – Wesley.

Blog at WordPress.com.
The Esquire Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.