Era Perawat 2.0 : Twitter dan Reformasi Pelayanan Keperawatan Rumah Sakit

Pada salah satu episode film seri kesehatan yang cukup popular, Grey Anatomy, menggambarkan salah satu tokoh, Dr Bailey sibuk meng-update lini masa Twitternya saat operasi CABG. Dr Webber, Kepala Bagian Bedah, memarahi Bailey karena tidak professional dalam bekerja. Bailey membela diri dengan menunjukkan bagaimana tweeting akan memungkinkan mahasiswa kesehatan  di luar untuk mengikuti jalannya operasi yang jarang disaksikan. Beberapa saat kemudian, proses operasi ternyata berubah kritis, terjadi pendarahan spontan pada pasien. Pasien membutuhkan transfuse segera dalam waktu tiga jam. Tim itu terlihat putus asa karena persediaan darah habis, hingga akhirnya muncul sebuah  tweet balasan dari rumah sakit terdekat, yang mengumumkan bahwa mereka memiliki persediaan darah untuk transfusi. Operasi itu akhirnya berhasil, dan Dr Webber pun mengoreksi kebenciannya kepada Twitter, dan bahkan menggunakannya selama operasi. Meskipun alur cerita yang murni fiksi, namun kondisi dimana Rumah Sakit mulai beralih ke Twitter adalah nyata. Jejaring sosial dirasakan mampu menjembatani kesenjangan antara staf rumah sakit-pasien.

Jejaring Sosial merupakan tren baru yang sedang melanda Indonesia. Kepopulerannya dimulai dari Friendster, multiply, dan meluas secara drastis pada era facebook. Twitter adalah sebuah jejaring sosial gratis dan layanan micro-blogging yang memungkinkan pengguna untuk mengirim dan membaca pesan yang dikenal sebagai tweets. Posting tweets berbasis teks hingga 140 karakter yang ditampilkan pada halaman profil penulis dan dikirimkan ke pelanggan penulis yang dikenal sebagai pengikut. Secara kuantitas, populasi pengguna Twitter di tanah air terus meningkat, sejalan dengan makin meningkatnya teknologi di Indonesia. Saat ini, Indonesia adalah pengguna Twitter terbanyak ketiga di dunia, pertama di Asia. Presiden SBY bahkan pernah memamerkannya di hadapan pengusaha Amerika Serikat.  Penggunaan twitter sebagai sarana kampanye sosial media, menurut para networker sangat disarankan, termasuk dalam mengoptimalkan pelayanan kesehatan.

Perawat tidak dapat dipungkiri merupakan bagian penting dari rumah sakit dan dapat berfungsi sebagai penghubung komunikasi untuk pasien, dokter, dan bagian lain yang tergabung dalam pelayanan Rumah Sakit. Teknologi yang mendukung komunikasi tersebut saat ini sangat beragam. Akan tetapi, Twitter merupakaan salah satu wahana yang menarik untuk dipertimbangkan, karena selain cukup familiar di masyarakat, juga memiliki potensi begitu banyak. Berikut merupakan ulasan tentang bagaimana Perawat dapat memanfaatkan Twitter bagi optimalisasi pelayanan Keperawatan di Rumah Sakit.

Manfaat Twitter 

Berikut merupakan manfaat spenting twitter bagi optimalisasi pelayanan keperawatan di rumah sakit secara garis besar.

  1. Permasalahan perawatan seringkali dating karena terlewatinya golden periode pertolongan bagi pasien. Hal ini biasanya dikarenakan banyak prosedur yang harus dilewati jika pasien hendak kontrol ke dokternya, maupun berkonsultasi langsung dengan petugas kesehatan. Ancaman ini dapat dihindari ketika pasien menyebutkan (mention) dokter atau perawat mereka.  Sebagai contoh, di Sarasota Memorial Hospital, pasien semakin banyak belajar untuk menggunakan Twitter untuk mendapatkan hasil maksimal dari perawatan mereka. Dokter di Chicago Rush University Medical Center bahkan mengawasi pasien melalui Facebook sehingga mereka akan diberitahu oleh pasien pemulihan mereka.
  2. Seperti di Grey Anatomy, dokter mungkin mengupdate tweeter selama operasi untuk menjawab pertanyaan medis dari pasien lain. Seperti Dr Webber, beberapa orang khawatir bahwa hal ini akan mengalihkan fokus tindakan bedah ke pasien. Tapi pada setiap tim operasi, akan ada salah satu staff yang mungkin bebas sementara yang lain bekerja, dan pada saat itu ia dapat mengisi waktu-nya dengan menjawab pertanyaan (mention) yang masuk. Pada bulan Maret 2009, dokter bedah otak di Henry Ford Hospital menjawab lebih dari 1.900 mention pertanyaan yang masuk secara langsung saat pembedahan berlangsung. Twitter telah menjadi sumber daya yang besar bagi mahasiswa kesehatan dan merupakan aliran informasi yang sangat cepat untuk publik.
  3. Ada waktu di mana kondisi menjadi sangat kritis, seperti ketika transfusi diperlukan. Mengupdate Twitter mungkin dapat  menyelamatkan. Pada bulan Agustus 2009, tumpahan bahan kimia menyebabkan lebih dari 50 orang dirawat di rumah sakit, dengan dua orang dalam kondisi kritis. Staff Rumah Sakit New Bedford Southcoast  meminta setiap pasien untuk meng-update tweet harian terkait kondisi masing-masing korban, atau jika obat mereka habis. Kondisi ini sangat membantu dalam memonitor pasien di Rumah Sakit.

Selain itu, sebuah kajian menarik yang dipublikasikan oleh LPN to RN (2009) menyatakan bahwa perawat dapat memanfaatkan twitter dalam 101 cara, secara garis besar sebagai berikut:

  1. Untuk Pemasaran dan Relasi Publik, seperti publikasi sarana baru, cabang baru, dll.
  2. Berhubungan dengan Pasien, ini berguna baik pada saat pasien di rawat maupun saat pasien keluar Rumah Sakit. Sangat mendukung untuk aplikasi kebutuhan homecare, survey kepuasan pasien, dan deteksi dini kambuhnya penyakit.
  3. Bagi Komunitas, dapat berupa pendidikan kesehatan, diskusi terkait kebijakan kesehatan, dll.
  4. Kebutuhan Internal Rumah Sakit, dapat berupa pengumuman kebutuhan ketenagakerjaan, kebutuhan donor darah maupun organ yang cukup darurat, dll.
  5. Penelitian dan survey, twitter memberikan fasilitas pencarian yang sangat luas, dan cukup dipermudah dengan adanya fasilitas mention (@) dan hashtag (#), ini dapat digunakan untuk mensurvei pola penyakit atau keluhan yang sering diderita oleh pasien. Hal ini salah satunya pada riset yang dilakukan oleh seorang konsultan marketing di Minneapolis, Russell Herder, yang menyatakan bahwa konsumen (pasien) mulai sering membagi informasi kesehatannya dalam jejaring social, sehingga diperlukan pendampingan oleh petugas kesehatan untuk memberi arahan yang tepat.
  6. Monitoring Pasien dan Aplikasi Medis: dalam hal ini dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan pasien langsung, mengirimkan dan mempublikasikan data, catatan harian pasien, mengirimkkan hasil lab, mengirimkan hasil pengkajian keperawatan pada EMR (Electronic Medical Record) yang digunakan, melacak diet pasien, mengikuti trend penyakit yang diderita pasien, memonitor gerakan janin (dengan meminta Ibu hamil mengirim twitter setiap merasakan tendangan janin), melacak gula darah pasien.

Hambatan dan Tantangan

Tidak dapat dipungkiri, masih banyak rumah sakit yang enggan untuk menggunakan media sosial sebagai alat komunikasi, karena mereka berpikir aplikasi tersebut adalah pelanggaran kerahasiaan pasien. Selain itu, rumah sakit perlu untuk menjaga citra publik mereka, akan adanya kemungkinan kritik dari pasien akan pelayanan rumah sakit yang buruk, yang disampaikan melalui media sosial. Selain itu, Rumah sakit juga harus membekali perawatnya dengan penguasaan teknologi, dan seringkali pola pikir lama bahwa kampanye melalui jejaring social semacam twitter dianggap tidak member keuntungan secara cepat masih dianut banyak pemegang kebijakan Rumah Sakit.

Namun ada satu rumah sakit yang telah sepenuhnya melakukan perubahan terkait pemanfaatan jejaring sosial. Mayo Clinic, yang berlokasi di Rochester, Minn, memberi pelayanan non-profit terbesar melalui penggunaan jejaring sosial. Filosofi mereka adalah “kebutuhan pasien  adalah yang pertama.” Dan memang itu yang mereka lakukan. Mayo Clinic telah membuka Pusat Jejaring sosial yang akan melatih organisasi kesehatan untuk menggunakan Twitter, Youtube, dan Facebook melalui konferensi dan lokakarya – disebut “Tweetcamp” – sehingga mereka dapat berkomunikasi dengan pasien dan masyarakat secara langsung,  tidak seperti sebelumnya. Penggunaan jejaring sosial telah membantu menghilangkan inefisiensi seperti antrian jadwal kontrol, kurangnya interaksi dokter-pasien maupun perawat-pasien, dan kurangnya pendidikan kesehatan masyarakat, dan tindakan preventif maupun deteksi dini yang diperlukan pasien, yang semuanya penting dalam optimalisasi proses keperawatan. Kurangnya komunikasi perawat-pasien terkait tindakan preventif maupun deteksi dini penyakit, dapat menyebabkan melonjaknya biaya  perawatan, seperti tindakan operasi dan pemberian obat yang berisiko tinggi. Beban prosedur ini menyebabkan mahalnya biaya perawatan, dan solusinya dapat dilakukan melalui reformasi kebijakan rumah sakit terkait pemanfaatan social media. Mayo Clinic merupakan contoh organisasi Rumah sakit yang mengantarkan pada ke generasi Twitter, dimana fasilitas perawatan dapat datang kepada Anda dalam satuan waktu tweet 🙂

Kepustakaan:

Boulos M.N., Wheeler S. (2007). The emerging Web 2.0 social software: an enabling suite of sociable technologies in health and health care education. Health Info Libr J. 2007 Mar;24(1):2–23. [PubMed]

Evans, Roger. (2011). Reviews. The nurse’s social media advantage — how making connections and sharing ideas can enhance your nursing practice. Nursing Standard (NURS STAND), 2011 May 25-31; 25(38): 31

Fyffe T. (2009). Nursing shaping and influencing health and social care policy. Journal Of Nursing Management [J Nurs Manag] 2009 Sep; Vol. 17 (6), pp. 698-706.

Hader AL , Brown ED. (2010). LEGAL BRIEFS. Patient Privacy and Social Media. AANA Journal (AANA J), 2010 Aug; 78(4): 270-4 (26 ref)

LPN to RN. (2009). 101 yays to use twitter in your hospital. Diakses dari http://www.lpn-to-rn.net/blog/2009/101-ways-to-use-twitter-in-your-hospital/ pada tanggal 7 Nopember 2011 pukul 20.00

Lukes CA. (2010). Social media. AAOHN Journal: Official Journal Of The American Association Of Occupational Health Nurses [AAOHN J] 2010 Oct; Vol. 58 (10), pp. 415-7

Marrlott P ; Mostyn N. (2010). Management series. How you can use social media to solve staff shortages. Nursing & Residential Care (NURS RESIDENTIAL CARE), 2010 Sep; 12(9): 456-7

Ohio Nurses Review. (2011).Issues & answers. Social media: implications for nursing: nursing practice statement NP 85. Ohio Nurses Review (OHIO NURSES REV), 2011 Mar-Apr; 86(2): 6-7 (5 ref)

Ressler, Pamela Katz ; Glazer, Greer. (2011). Nursing’s engagement in health policy and healthcare through social media. Nevada RNformation (NEV RNFORMATION), 2011 Feb; 20(1): 18

Saver C. (2010). Tweeting, posting, and Yammering: the role of social media in the OR. OR Manager (OR MANAGER), 2010 Feb; 26(2): 1, 12-4 (5 ref)

Skiba, Diane J. (2011). Nursing Education 2.0: The Need for Social Media Policies for Schools of Nursing. Nursing Education Perspectives (NURS EDUC PERSPECT), 2011 Apr; 32(2): 126-7 (6 ref)

World of Irish Nursing & Midwifery. (2010). Nursing services director joins Facebook and Twitter social media revolution. World of Irish Nursing & Midwifery (WORLD IR NURS MIDWIFERY), 2010 Sep; 18(8): 13

Suara Indah*

pagi ini:

Bapak A:  “suster bs lihat wajah saya?”
Saya: -terkejut sdikit- “memang nya knapa Pak?”
Bapak A: “soalnya saya gak bisa lihat wajah suster.”. -nada sedih-
(bapak A dgn riwayat glukoma,plihatannya sgt kabur)
Saya:”Bapak bisa dengar jelas suara saya?”
Bapak A: “bisa suster, memangnya kenapa?”
Saya: “soalnya suara saya lebih indah dari wajah saya..” -senyum-
Bapak A:  “Alhamdulillah kalau begitu, Allah memang maha adil”
Saya: 🙂

*diceritakan oleh Ns. Tiwi

Voice of Florence Nightingale (1890)

Sejarah Keperawatan bilang kalau profesi ini muncul sejak Kiprah Lady of The Lamp, Florence Nightingale dengan catatan keperawatannya yang tertulis di Notes on Nursing (bisa dibaca di sini)

Nah, adakah yang penasaran bagaimana suara Nightingale yang asli? bisa didengarkan di video berikut

Florence nightingale (1890):
‘When I am no longer even a memory- just a name, I hope my voice may perpetuate the great work of my life. God bless my dear old comrades of Balaclava and bring them safe to shore. FlorenceNightingale.’

Ada beberapa pihak yang menyatakan bahwa cikal bakal profesi keperawatan bukan dari Nightingale. Namun keberadaan Notes on Nursing menambahkan satu lagi fakta bahwa sejarah hanya mengakui kisah yang terdokumentasikan dengan baik, salah satunya melalui catatan. Oleh karena itu, apabila kita ingin menginginkan hal yang sama dengan Nightingale (When I am no longer even a memory- just a name, I hope my voice may perpetuate the great work of my life) Mari budayakan menulis 🙂

Hands Only CPR (Resusitasi tanpa napas buatan)

CPR (Cardio Pulmonary Resuscitation) atau RJP (Resusitasi Jantung Paru) sekarang lebih mudah dilakukan dengan pijat jantung saja. Jadi, siapapun, walau belum dapat pelatihan BLS (Basic Life Support) diharapkan bisa turut menolong bila mendapati korban serangan jantung tiba-tiba.

American Heart Association menuturkan memberikan pemompaan keras dan cepat ke dada lebih efektif dan dapat menyelamatkan hidup ketimbang napas buatan mulut ke mulut. Cara ini akan membuat darah yang kaya oksigen mengalir ke otak sambil menunggu tenaga medis datang.

“Penekanan pada dada adalah bagian paling penting dari CPR. Perubahan yang utama adalah beralih dari membuka saluran napas dan memberikan bantuan pernapasan menjadi penekanan atau pemompaan pada dada,” ujar Dr Michael Sayre, juru bicara American Heart Association, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (19/10/2010).

Studi terbaru menunjukkan bahwa CPR tanpa bantuan pernapasan akan bekerja lebih baik dibandingkan dengan versi CPR lengkap yang banyak dilakukan pada orang yang menderita jantung.

Penggambaran kronologisnya dapat adalah sebagai berikut:
Jika melihat seseorang tiba-tiba terjatuh, misalnya satu menit mereka berjalan dan berbicara lalu di menit berikutnya jatuh ke tanah maka kemungkinan besar itu adalah serangan jantung. Jika korban tidak bernapas atau napasnya tidak normal, maka tekan atau goyangkan bahunya untuk membangunkan. Jika tidak juga bangun, maka:

1. Panggil bantuan (berteriak minta tolong atau telp 118)
2. Lakukan pijat jantung
(letakkan telapak tangan 2 jari di atas tulang xifoid/mid sternal/pertengahan puting, posisi lengan tegak lurus, lakukan kompresi dengan kedalaman 4-5cm, dengan rata-rata jumlah pompaan minimal adalah 100 kompresi per menit -kecepatnnya kebetulan sama dengan lagu disko Bee Gees ‘Staying Alive’ yang populer tahun 1977-.)

Jika CPR dilakukan pada korban yang tiba-tiba jatuh tapi bukan karena serangan jantung maka biasanya korban akan terbangun.  Jadi tidak usah khawatir salah melakukan tindakan karena prosedur RJP yang rumit. Prinsipnya, lebih baik dilakukan pertolongan dari  pada tidak sama sekali.

Bagi orang yang terlatih dengan CPR konvensional, dalam pedoman baru ini merekomendasikan juga untuk memberikan dua napas buatan setelah 30 penekanan dan kemudian mengulangi siklus kembali.

Pertolongan seperti itu sangat berguna bagi sebagian besar anak-anak dan orang-orang yang tenggelam, karena pemompaan yang dilakukan akan membuat oksigen mengalir di dalam darah.

Tapi bagi orang yang mengalami serangan jantung akibat pembuluh darahnya tersumbat, maka penting bagi orang tersebut untuk menjaga agar darah tetap mengalir tanpa ada gangguan yang cukup dengan pemompaan di dada.

Sumber: http://handsonlycpr.org/assets/files/HandsOnlyCPR-FAQ.pdf

 

Daring to Care: American Nursing and Second-Wave Feminism

By Susan Gelfand Malka

University of Illinois Press 

Daring to Care is a commentary on how the experience of nurses has changed since the 1940s. In two periods – the mid-1960s through the mid-1980s, and the mid-1980s through the present – nurses defined their profession, at first not in step with the 1960s feminist movement and, later, more compatible with second wave feminism. The earlier movement disagreed with the idea of women as specialists in caregiving, a subordinate role. It challenged the apron and rules about what a nurse’s family and figure ought to look like. Nursing students during the ’60s were somewhat at odds with the movement, reporting pride from the cap and apron as symbols of their training.

Imagine a new nurse in her graduation uniform crossing a crowd of students burning aprons. Nurses also reported dismay at the slogan “Why a nurse, why not a doctor?” A few male nurses entered the field, but not enough for the reverse slogan to catch on. The complaints of nurses in the 1960s were not about uniforms or a glass ceiling. Rules forbidding dating on campus, making-out in cars, and marrying were conflicts of interest at this time. And weight requirements were enforced in some hospitals until the late 60s. If one were over a certain size, the nurse couldn’t work. Interviews bring forth double standards that stuck in nursing longer than in most other fields that women worked.

In both movements education changed. Originally nurses’ training was unpaid, repetitive, and on the job. Even before the feminist movement this was being challenged. Students knew they were being exploited and head nurses thought patients would be better served by nurses with more formal education. When nursing colleges began, there was a schism between nurses with hospital diplomas and those with college degrees. This schism widened as some were allowed more responsibilities and as technology in the hospital increased. Later, degrees – such as Masters in Public Health and Nurse Practitioner – allowed for more diversity and autonomy in the application of nurses’ training, and probably added less contention than the first changes did. These created opportunities for nurses to lobby for greater rights and recognition.

More men entered the field, as well. Women who enjoyed applying traditionally feminine roles to nursing did so by choice. So it seems from Malka, second wave feminism was a more pliable context for nursing than the first wave, and the field has flourished since the 1980s, with nurses practicing passionately in innovative ways.

Review by Heather Irvine

Profession Act v.s Birokrat

gb.1. aksi mendadak di depan Baleg DPR RI, 6 Desember 2010

Profession Act akan merebut kedaulatan profesi daricengkraman birokrasi. Pertanyaannya, relakah birokrat tersebut kehilangan lahan ‘mainan’nya??

Pengajuan suatu RUU itu bisa dilakukan oleh 2 pihak, yakni pemerintah (birokrat) atau rakyat melalui DPR. Bukan suatu rahasia lagi kalau pengesahan UU Keperawatan dijegal oleh birokrat kita sendiri, yang malah mengeluarkan RUU Tenaga Kesehatan. Oleh karena itulah RUU keperawatan diajukan ke Badan legislasi (Baleg) melalui DPR (komisi 9).

Jika ditilik dari kepentingan masyarakat, sebenarnya keberadaan UU Keperawatan memang sangat penting untuk berdiri sendiri, karena:

Pertama, dari segi konten,UU keperawatan akan menuntut profesionalisme perawat, yang berarti tanggung jawab (responsibility) dan tanggung gugat (lialibility) perawat semakin dikedepankan. Hal ini cukup penting karena perawat merupakan tenaga kesehatan Indonesia terbanyak (60% lebih), paling lama berhadapan dengan pasien (katanya 24 hours), jadi tentu saja masyarakat sebagai konsumen kesehatan perlu dilindungi haknya dari penyalahgunaan profesi ini.

Kedua, berdasarkan best practices delivery international. Negara-negara tetangga yang sudah punya Nursing Act banyak yang tidak mau menjalin kerjasama keperawatan dengan negara yang tak punya Nursing Act. Alasannya, ya bagaimana mungkin mereka mau menerima perawat yang bahkan belum menjadi Registered Nurse (RN) di negara sendiri? dan kondisinya, dari 10 negara ASEAN yang menandatangani MRA (Mutual Recognition Arrangement)on Nursing, hanya Indonesia dan Laos yang tidak punya Nursing Act, dan bukan tidak mungkin jika lahan keperawatan di Indonesia malah direbut oleh perawat dari luar negeri.  Keberadaan Nursing Act ini akhirnya bisa menjadi salah satu parameter tingkat kesehatan suatu negara dengan negara lain (berapa tahun Indonesia ketinggalan dari negara lain dalam pengesahannya). Dengan demikian, justru posisi Nursing Act ini malah sangat penting untuk kemajuan Indonesia sendiri di dunia Internasional.

Professional Act memang bukan secara khusus hanya Nursing Act saja. AdaEnginer Act, Pharmacy Act, Dentistry Act, dll.

Untuk Enginer Act, kita bisa menilik kasus runtuhnya jembatan cipularang misalnya. selama ini yang dituntut kalau ada masalah kan pemerintah, nah seberapa besar kapabilitas pemerintah menangani masalah seperti kasus runtuhnya jembatan ini? jika ada Enginer Act, sudah pasti yang bisa dipersalahkan ya enginer, tapi karena mereka ahlinya, maka diharapkan terjadi kajian khusus yang menjadi pembelajaran, sehingga pelayanan di perihal per’jembatan’an bisa dioptimalkan.

Itu contoh kasus saja yang menggambarkan betapa keahlian tiap pofesi itu perlu diakui secara legalitas hukum. Nah, kembali ke profesi kesehatan, Depkes memang menilai banyak sekali UU profesi kesehatan yang harus dibahas, dan tentu pembahasan tersebut akan memakan biaya yang tidak sedikit. Atas alasan yang -cukup- pragmatis itulah RUU Tenaga kesehatan(Nakes) diajukan. Pertanyaan yang timbul dari RUU Nakes:

1. Apa yang akan di bahas di RUU Nakes? jika hanya mengangkat hubungan industrial, maka tentunya akan overlapping dengan UU tenaga kerja. UU profesi itu kan seharusnya mengatur hal khusus seputar keahlian masing-masing profesi.

2. Apakah diantara profesi-profesi yang disandingkan dalam UU nakes apakah cukup sejajar? hal ini tentu terkait jenjang pendidikan (perawat sudah ada yg jadi profesor), jumlah tenaga yang ada (UU Keperawatan urgent karena jumlahnya terbanyak), jam terbang (perawat 24 jam kan? ;) ), dll.

3. Apakah jika RUU Nakes disahkan juga dapat diakui secara internasional sebagai Profession Act atau tidak? ini penting karena mempertimbangkan best practices delivery international tadi, posisi tawar Indonesia akan meningkat jika punya Profession Act.

Posisi Depkes sebenarnya belum jelas,apakah alasan mengeluarkan RUU Nakes disini memang negatif, pragmatis, atau malah proaktif ingin mengakomodasi seluruh profesi kesehatan yang ada. Untuk itulah seharusnya Pemerintah sendiri mengadakan pencerdasan ke masyarakat, entah itu via talkshow atau apalah, sehingga biarkan masyarakat menilai, mana yang urgent, RUU Keperawatan (yang secara draft, naskah akademis, dan referensi pendukung sudah siap untuk dibahas) atau perlu membahas keseluruhan profesi yang tercantum dalam RUU Nakes.

Untuk keperawatan sendiri, tentu kita tidak bisa jika hanya mengandalkan DPR. Tim yang terbentuk memang seharusnya terdiri dari perawat, masyarakat, dan lembaga yang peduli masyarakat. Selanjutnya dibentuk minimal 3 tim: tim permus (yang merumuskan UU), tim lobi (yang menego anggota DPR dan Pemerintah), serta tim Opini publik. Evaluasinya, kita masih lemah di tim ketiga ini: membentuk opini publik. Mengapa? karena perawatnya sendiri merasa masih ragu, memang perlu banget ya UU Keperawatan? yah gimana mo ngeyakinin publik.

Untuk lobi, ini sangat politis. Kondisi dari aksi kemarin (tgl 2 Desember yang menyusup ke dalam DPR, aksi di depan ruang baleg, dan tgl 6 Desember di depan DPR), cukup memberi pressure pada pleno baleg untuk memasukkan kembali RUU keperawatan dalam prioritas prolegnas 2011. Namun, sebelum ini diketok dalam sidang paripurna (perkiraan tg 14 nanti), maka masih sangat mungkin juga RUU Keperawatan hengkang kembali. Maka dari itulah, selagi anggota dewan yang berhasil di lobi untuk pro memperjuangkan kita, perawat dan masyarakat juga perlu untuk menyuarakan aspirasinya. Bagaimana carannya? ya aksi dan membentuk opini publik, sambil mencari dukungan sebanyak-banyaknya. Contoh gampang, sebarkan via fesbuk :P

Ada sebenarnya satu Profession Act yang diajukan oleh pemerintah (depkes), yaitu medical act atau UU Kedokteran. Nah, ini juga yang seharusnya harus dipelajari oleh kita, bagaimana Depkes rela untuk melepas salah satu lahannya. Karena untuk pengesahan, tentu ada dua pihak yang terkait: Senayan dan Kuningan (DPR dan pemerintah). Dua-duanya harus kita lobi. Dua-duanya harus kita kawal sampai benar-benar tersahkan UU yang kita maksud (whether its Nursing act or its content on UU Nakes)

Ini perjuangan yang panjang dan berat kawan-kawan..

Model Keperawatan: Teori Konservasi Levine

Theory is the poetry of science. The poet’s words are familiar each standing alone, but brought together they sing, they astonish, they teach. The theorist offers a fresh vision, familiar concepts brought together in bold, new designs the theorist and poet seek excitement in the sudden insights that make ordinary experience extraordinary, but theory caught in the intellectual exercises of the academy becomes alive only when it is made a true instrument of persuasion. (Levine, 1995, p. 14)

Sejak Florence Nightingale meletakan pondasi keperawatan pada catatannya (Notes on Nursing), teori  dan model tentang profesi keperawatan terus berkembang. Di antaranya yang sangat kita kenal adalah teori Dorothea Orem tentang ‘self-care Framework’,  Sr.Callista Roy tentang ‘Adaptation Model’, Jean Watson tentang ‘Theory of Human Caring’.  Pada kesempatan kali ini, saya ingin menggali lebih lanjut tentang teori ‘Conservation Model’ oleh Myra Levine’s yang diselesaikan pada 1973.

BIOGRAFI


Myra Estrin Levine (1920-1996) lahir di Chicago, Illinois. Ia adalah anak tertua dari tiga bersaudara. Levine mengembangkan minat dalam perawatan karena ayahnya sering sakit (mengalami masalah gastrointestinal) dan memerlukan perawatan. Levine lulus dari Cook County School of Nursing tahun 1944 dan memperoleh gelar Bachelor Science of Nursing (BSN) dari University of Chicago pada tahun 1949. Setelah lulus, Levine bekerja sebagai perawat sipil untuk US Army, sebagai supervisor perawat bedah, dan administrasi keperawatan. Setelah mendapatkan gelar Master Science of Nursing (MSN) di Wayne State University pada tahun 1962, ia mengajar keperawatan di berbagai lembaga (George, 2002) seperti University of Illinois di Chicago dan Tel Aviv University di Israel. Levine menulis 77 artikel yang dipublikasikan yang termasuk artikel “An Introduction to Clinical Nursing” yang dipublikasikan berulang kali pada tahun pada tahun 1969, 1973 & 1989. Ia juga menerima gelar doktor kehormatan dari Loyola University pada tahun 1992. Levine meninggal pada tahun 1996.
Levine pribadi menyatakan bahwa ia tidak bertujuan khusus untuk mengembangkan ‘teori keperawatan’,  tetapi ingin menemukan cara untuk mengajarkan konsep-konsep utama dalam Keperawatan Medikal Bedah dan berusaha untuk mengajarkan siswa keperawatan sebuah pendekatan baru dalam kegiatan keperawatan. Levine juga ingin berpindah dari praktek keperawatan pendidikan yang  mernurutnya sangat prosedural dan kembali fokus pada pemecahan masalah secara aktif dan perawatan pasien (George, 2002).

  1. A. Model Konservasi Levine

Model konservasi levine merupakan Keperawatan praktis dengan konservasi model dan prinsip yang berfokus pada pelestarian energi pasien untuk kesehatan dan penyembuhan. Adapun prinsip konservasi tersebut adalah sbb:

1. Konservasi Energi

Individu memerlukan keseimbangan energi dan memperbaharui energi secara konstan untuk mempertahankan aktivitas hidup. Konservasi energi dapat digunakan dalam praktek keperawatan.

2. Konservasi Integritas Struktur

Penyembuhan adalah suatu proses pergantian dari integritas struktur. Seorang perawat harus membatasi jumlah jaringan yang terlibat dengan penyakit melalui perubahan fungsi dan intervensi keperawatan.

3. Konservasi Integritas Personal

Seorang perawat dapat menghargai klien ketika klien dipanggil dengan namanya. Sikap menghargai tersebut terjadi karena adanya proses nilai personal yang menyediakan privasi selama prosedur.

4. Konservasi Integritas Sosial

Kehidupan berarti komunitas social dan kesehatan merupakan keadaan social yang telah ditentukan. Oleh karena itu, perawat berperan menyediakan kebutuhan terhadap keluarga, membantu kehidupan religius dan menggunakan hubungan interpersonal untuk konservasi integritas social.

TIGA KONSEP UTAMA DARI MODEL KONSERVASI


1. Wholeness (Keutuhan)

Erikson dalam Levine (1973) menyatakan wholeness sebagai sebuah sistem terbuka: “Wholeness emphasizes a sound, organic, progressive mutuality between diversified functions and parts within an entirety, the boundaries of which are open and fluent. (Keutuhan menekankan pada suara, organik, mutualitas progresif antara fungsi yang beragam dan bagian-bagian dalam keseluruhan, batas-batas yang terbuka)”  Levine (1973, hal 11) menyatakan bahwa “interaksi terus-menerus dari organisme individu dengan lingkungannya merupakan sistem yang ‘terbuka dan cair’, dan kondisi kesehatan, keutuhan, terwujud ketika interaksi atau adaptasi konstan lingkungan, memungkinkan kemudahan (jaminan integritas) di semua dimensi kehidupan”. Kondisi dinamis dalam interaksi terbuka antara lingkungan internal dan eksternal menyediakan dasar untuk berpikir holistik,  memandang individu secara keseluruhan.

2. Adaptasi

Adaptasi merupakan sebuah proses perubahan yang bertujuan mempertahankan integritas individu dalam menghadapi realitas lingkungan internal dan eksternal. Konservasi adalah hasil dari adaptasi. Beberapa adaptasi dapat berhasil dan sebagian tidak berhasil.

Levine mengemukakan 3 karakter adaptasi yakni: historis, spesificity, dan redundancy. Levin menyatakan bahwa setiap individu mempunyai pola respon tertentu untuk menjamin keberhasilan dalm aktivitas kehidupannya yang menunjukkan  adaptasi historis dan spesificity. Selanjutnya pola adaptasi dapat disembunyikan dalam kode genetik individu. Redundancy menggambarkan pilihan kegagalan yang terselamatkan dari individu untuk menjamin adaptasi. Kehilangan redundancy memilih apakah melalui trauma, umur, penyakit, atau kondisi lingkungan yang membuat individu sulit mempertahankan hidup.

a. Lingkungan

Levine memandang setiap individu  memiliki lingkungannya sendiri baik lingkungan internal maupun eksternal. Perawat dapat menghubungkan lingkungan internal individu dengan aspek fisiologis dan patofisiologis, dan lingkungan eksternal sebagai level persepsi, opersional dan konseptual. Level perseptual melibatkan kemampuan menangkap  dan  menginterpretasi dunia dengan organ indera. Level operasional terdiri dari segala sesuatu yang mempengaruhi individu secara fisiologis meskipun mereka tidak dapat mempersepsikannya secara langsung, seperti mkroorganisme. Pada konseptual level, lingkungan dibentuk dari pola budaya, dikarakteristikkan dengan keberadaan spiritual, dan ditengahi oleh simbol bahasa, pikiran dan pengalaman.

b. Respon organisme

Respon organisme adalah kemampuan individu untuk beradaptasi dengan lingkungannya, yang bisa dibagi menjadi  fight atau flight, respon inflamasi, respon terhadap stress, dan kewaspadaan persepsi.

1)        Fight-flight merupakan respon yang paling primitif dimana ancaman yang diterima individu baik nyata maupun tidak, merupakan respon terhadap ketakutan melalui menyerang atau menghindar hal ini bersifat reaksi yang tiba-tiba. Respon yang disampaikan adalah kewaspadaan untuk mencari informasi untuk rasa aman dan sejahtera.

2)        Respon peradangan atau inflamasi merupakan mekanisme pertahanan yang melindungi diri dari lingkungan yang merusak, merupakan cara untuk menyembuhkan diri, respon individu adalah menggunakan energi sistemik yang ada dalam dirinya untuk membuang iritan atau patogen yang merugikan, untuk hal ini sangat dibutuhkan kontrol lingkungan.

3)        Respon terhadap stress menghasilkan respon defensif dalam bentuk perubahan yang tidak spesifik pada manusia, perubahan structural dan kehilangan energi untuk beradaptasi secara bertahap terjadi sampai rasa lelah terjadi, dikarakteristikkan  dengan pengaruh yang menyebabkan pasien atau individu berespon terhadap pelayanan keperawatan.

4)        Kewaspadaan perceptual, respon sensori menghasilkan kesadaran persepsi, informasi dan pengalaman dalam hidup hanya bermanfaat ketika diterima secara utuh oleh individu, semua pertukaran energi terjadi dari individu ke lingkungan dan sebaliknya. Hasilnya adalah aktivitas fisiologi atau tingkah laku. Respon ini sangat tergantung kepada kewaspadaan perceptual individu, hanya terjadi saat individu menghadapi dunia (lingkungan) baru disekitarnya dengan cara mencari dan mengumpulkan informasi dimana hal ini bertujuan untuk mempertahankan keamanan dirinya.

c. Trophicognosis

Levine merekomendasikan trophicognosis sebagai alternatif untuk diagnosa keperawatan. Ini merupakan metode ilmiah untuk menentukan sebuah penentuan rencana keperawatan.

3. Konservasi

Levine menguraikan model Konservasi sebagai inti atau dasar teorinya. Konservasi menjelaskan suatu system yang kompleks yang mampu melanjutkan fungsi ketika terjadi tantangan yang buruk. Dalam pengertian Konservasi juga, bahwa individu mampu untuk berkonfrontasi dan beradaptasi demi mempertahankan keunikan mereka.

Aplikasi Pada Proses Keperawatan

Proses Keperawatan Levin dengan menggunakan pemikiran kritis (Tomey, 2006)

Proses Pembuatan keputusan
Pengkajian

 

Mengumpulkan  data provokatif melalui wawancara dan observasidengan menggunakan prinsip konservasi

  1. Konservasi energi
  1. Integritas struktur
  2. Integritas personal
  3. Integritas sosial

 

 

Perawat mengobservasi pasien dengan melihat respon organisme teradap penyakit, membaca catatan medis, evaluasi hasil diagnostik dan berdiskusi dengan pasien tentang kebutuhan  akan bantuannya.n

Perawat mengkaji pengaruh lingkungan eksternal dan internal pasien dengan prinsip konservasi.

Fakta provokatif  yang perlu dikaji:

  1. Keseimbangan suplai dan kebutuhan energi
  2. Sistem pertahanan tubuh
  3. harga diri
  4. Kesiapan seseorang dalam berpartisipasi dalam sosial sistem

 

Keputusan à Tropihicognosis

 

Diagnosa keperawatan à menyimpulkan fakta provokatif

 

Fakta provokatif disusun sedemikian rupa untuk menunjukkan kemungkinan dari kondisi pasien. Sebuah kep utusan mengenai bantuan yang dibutuhkan pasien dibuat . Keputusan ini disebut tropihicognosis

 

Hpotesis

 

Mengarahkan intervensi keperawatan dengan tujuan untuk keutuhan dan promosi adaptasi

 

Berdasarkan keputusan, perawat memvalidasi masalah pasien, lalu mengemukakan hipotesis tentang masalah dan solusinya. Ini disebut rencana keperawatan.

Intervensi

 

Uji hipotesis

 

Perawat menggunakan hipotesis untuk memberi arah dalam melakukan perawatan.

Intervensi dilakukan berdasarkan prinsip konsevasi, yaitu konservasi energi, struktur, personal dan sosial.

Pendekatan ini diharapkan mampu mempertahankan keutuhan dan promosi adaptasi.

Evaluasi

 

Observasi repon organisme terhadap intervensi

 

Hasil dari uji hipotesa dievaluasi dengan mengkaji respn organisme apakah hipotesis membantu atau tidak.

KETERBATASAN TEORI

Meskipun kelengkapan dan aplikasi teori Levine luas, model ini bukan tanpa batasan. Sebagai contoh model konservasi Levine berfokus pada penyakit yang bertentangan dengan kesehatan; demikian, intervensi keperawatan dibatasi hanya untuk mengatasi kondisi penyajian individu. Oleh karena itu, intervensi keperawatan berdasarkan teori Levine adalah berfokus pada saat ini dan jangka pendek, dan tidak mendukung prinsip-prinsip promosi kesehatan dan pencegahan penyakit, meskipun ini adalah komponen penting dari praktek keperawatan saat ini. Dengan demikian, keterbatasan utama adalah fokus pada individu dalam keadaan sakit dan pada ketergantungan pasien. Selanjutnya, perawat memiliki tanggung jawab untuk menentukan kemampuan pasien untuk berpartisipasi dalam perawatan, dan jika persepsi perawat dan pasien tentang kemampuan pasien untuk berpartisipasi dalam perawatan tidak cocok, ketidakcocoka ini akan menjadi daerah konflik.

Selain itu, ada beberapa keterbatasan ketika ke empat prinsip Conservational Model diterapkan:

  1. Konservasi energi, Levine tujuan adalah untuk menghindari penggunaan energy yang berlebihan atau kelelahan. Hal ini diatur dalam perawatan sakit samping tempat tidur klien. Dalam kasus di mana kebutuhan energi untuk digunakan dari pada seperti pada pasien mania, ADHD (Attention-Deficit Hyperactivity Disorder) pada anak-anak atau mereka dengan gerakan terbatas seperti klien lumpuh, teori Levine itu tidak berlaku.
  2. Pada konservasi integritas struktural, fokusnya adalah untuk melestarikan struktur anatomi tubuh serta untuk mencegah kerusakan struktur anatomi. Ini, sekali lagi, memiliki keterbatasan. Dalam kasus-kasus dimana struktur anatomis tidak begitu sempurna tapi tanpa diidentifikasi cacat atau masalah seperti dalam operasi plastik, prosedur seperti perangkat tambahan payudara dan liposuctions; integritas struktural seseorang dikompromikan tetapi pilihan pasien mencari kecantikan fisik dan kepuasan psikologis yang dibawa ke pertimbangan. Jika tidak demikian, prosedur tidak boleh dipromosikan.
  3. Pada konservasi integritas personal, perawat diharapkan memberikan pengetahuan dan kebutuhan pasien harus dihormati, dilengkapi dengan privasi, didorong dan psikologis didukung. Keterbatasan di sini akan berpusat pada klien yang secara psikologis terganggu dan lumpuh dan tidak bisa memahami dan menyerap pengetahuan, pasien koma yaitu, individu atau klien bunuh diri.
  4. Tujuan konservasi integritas sosial adalah untuk melestarikan dan pengakuan dari interaksi manusia, terutama dengan klien, orang lain yang signifikan yang terdiri dari sistem dukungannya. Keterbatasan khusus untuk ini, adalah ketika klien tidak memiliki orang lain yang signifikan seperti ditinggalkan anak-anak, pasien psikiatris yang tidak mampu berinteraksi, klien tidak responsif seperti orang tak sadar, fokus di sini adalah tidak lagi pasien sendiri namun orang-orang yang terlibat dalam perawatan kesehatannya.

Kepustakaan:

Añonuevo, C. A., et al. (2005). Theoretical foundations of nursing. University of the Philippines Open University: Quezon City, Philippines.

Current Nursing. (n.d.). Nursing theories: Levine’s four conservation principles. Diunduh dari http://currentnursing.com/nursing_theory/Levin_four_conservation_principles.htm pada bulan September 2010.

DeBruin, Debra A. (2004). Looking Beyond the Limitations of “Vulnerability”: Reforming Safeguards in Research. The American Journal of Bioethics, 1536-0075, Volume 4, Issue 3, 2004, Pages 76 – 78

George, J. B. (2002). Nursing theories: Base for professional nursing. (5th ed). Pearson Education.

Leach, M.J. (n.d.) Wound management: Using Levine’s Conservation Model to guide practice. Vol. 52, Issue No. 8. Diunduh dari: http://www.o-wm.com/article/6024 pada bulan September 2010.

Levine, M. E. (1967). The four conservation principles of nursing. Nursing Forum, 6(1), 45-49.

Levine, M. E. (1967). This I believe: About patient centered care. Nursing Outlook, 15(4), 53-55.

Levine, M. E. (1973). Introduction to clinical nursing. F. A. Davis Company: Philadelphia, PA.

Tomey, A. M. & Alligood, M. R. (2006). Nursing theorists and their work. (6th ed.). Elsevier Health Sciences.

Tomey, A. M. & Alligood, M. R. (2006). Nursing Theory : utilization & application. Missouri : Mosby

*gambar diambil dari Understanding The Work of Nurse Theorist

Create a free website or blog at WordPress.com.