Era Perawat 2.0 : Twitter dan Reformasi Pelayanan Keperawatan Rumah Sakit

Pada salah satu episode film seri kesehatan yang cukup popular, Grey Anatomy, menggambarkan salah satu tokoh, Dr Bailey sibuk meng-update lini masa Twitternya saat operasi CABG. Dr Webber, Kepala Bagian Bedah, memarahi Bailey karena tidak professional dalam bekerja. Bailey membela diri dengan menunjukkan bagaimana tweeting akan memungkinkan mahasiswa kesehatan  di luar untuk mengikuti jalannya operasi yang jarang disaksikan. Beberapa saat kemudian, proses operasi ternyata berubah kritis, terjadi pendarahan spontan pada pasien. Pasien membutuhkan transfuse segera dalam waktu tiga jam. Tim itu terlihat putus asa karena persediaan darah habis, hingga akhirnya muncul sebuah  tweet balasan dari rumah sakit terdekat, yang mengumumkan bahwa mereka memiliki persediaan darah untuk transfusi. Operasi itu akhirnya berhasil, dan Dr Webber pun mengoreksi kebenciannya kepada Twitter, dan bahkan menggunakannya selama operasi. Meskipun alur cerita yang murni fiksi, namun kondisi dimana Rumah Sakit mulai beralih ke Twitter adalah nyata. Jejaring sosial dirasakan mampu menjembatani kesenjangan antara staf rumah sakit-pasien.

Jejaring Sosial merupakan tren baru yang sedang melanda Indonesia. Kepopulerannya dimulai dari Friendster, multiply, dan meluas secara drastis pada era facebook. Twitter adalah sebuah jejaring sosial gratis dan layanan micro-blogging yang memungkinkan pengguna untuk mengirim dan membaca pesan yang dikenal sebagai tweets. Posting tweets berbasis teks hingga 140 karakter yang ditampilkan pada halaman profil penulis dan dikirimkan ke pelanggan penulis yang dikenal sebagai pengikut. Secara kuantitas, populasi pengguna Twitter di tanah air terus meningkat, sejalan dengan makin meningkatnya teknologi di Indonesia. Saat ini, Indonesia adalah pengguna Twitter terbanyak ketiga di dunia, pertama di Asia. Presiden SBY bahkan pernah memamerkannya di hadapan pengusaha Amerika Serikat.  Penggunaan twitter sebagai sarana kampanye sosial media, menurut para networker sangat disarankan, termasuk dalam mengoptimalkan pelayanan kesehatan.

Perawat tidak dapat dipungkiri merupakan bagian penting dari rumah sakit dan dapat berfungsi sebagai penghubung komunikasi untuk pasien, dokter, dan bagian lain yang tergabung dalam pelayanan Rumah Sakit. Teknologi yang mendukung komunikasi tersebut saat ini sangat beragam. Akan tetapi, Twitter merupakaan salah satu wahana yang menarik untuk dipertimbangkan, karena selain cukup familiar di masyarakat, juga memiliki potensi begitu banyak. Berikut merupakan ulasan tentang bagaimana Perawat dapat memanfaatkan Twitter bagi optimalisasi pelayanan Keperawatan di Rumah Sakit.

Manfaat Twitter 

Berikut merupakan manfaat spenting twitter bagi optimalisasi pelayanan keperawatan di rumah sakit secara garis besar.

  1. Permasalahan perawatan seringkali dating karena terlewatinya golden periode pertolongan bagi pasien. Hal ini biasanya dikarenakan banyak prosedur yang harus dilewati jika pasien hendak kontrol ke dokternya, maupun berkonsultasi langsung dengan petugas kesehatan. Ancaman ini dapat dihindari ketika pasien menyebutkan (mention) dokter atau perawat mereka.  Sebagai contoh, di Sarasota Memorial Hospital, pasien semakin banyak belajar untuk menggunakan Twitter untuk mendapatkan hasil maksimal dari perawatan mereka. Dokter di Chicago Rush University Medical Center bahkan mengawasi pasien melalui Facebook sehingga mereka akan diberitahu oleh pasien pemulihan mereka.
  2. Seperti di Grey Anatomy, dokter mungkin mengupdate tweeter selama operasi untuk menjawab pertanyaan medis dari pasien lain. Seperti Dr Webber, beberapa orang khawatir bahwa hal ini akan mengalihkan fokus tindakan bedah ke pasien. Tapi pada setiap tim operasi, akan ada salah satu staff yang mungkin bebas sementara yang lain bekerja, dan pada saat itu ia dapat mengisi waktu-nya dengan menjawab pertanyaan (mention) yang masuk. Pada bulan Maret 2009, dokter bedah otak di Henry Ford Hospital menjawab lebih dari 1.900 mention pertanyaan yang masuk secara langsung saat pembedahan berlangsung. Twitter telah menjadi sumber daya yang besar bagi mahasiswa kesehatan dan merupakan aliran informasi yang sangat cepat untuk publik.
  3. Ada waktu di mana kondisi menjadi sangat kritis, seperti ketika transfusi diperlukan. Mengupdate Twitter mungkin dapat  menyelamatkan. Pada bulan Agustus 2009, tumpahan bahan kimia menyebabkan lebih dari 50 orang dirawat di rumah sakit, dengan dua orang dalam kondisi kritis. Staff Rumah Sakit New Bedford Southcoast  meminta setiap pasien untuk meng-update tweet harian terkait kondisi masing-masing korban, atau jika obat mereka habis. Kondisi ini sangat membantu dalam memonitor pasien di Rumah Sakit.

Selain itu, sebuah kajian menarik yang dipublikasikan oleh LPN to RN (2009) menyatakan bahwa perawat dapat memanfaatkan twitter dalam 101 cara, secara garis besar sebagai berikut:

  1. Untuk Pemasaran dan Relasi Publik, seperti publikasi sarana baru, cabang baru, dll.
  2. Berhubungan dengan Pasien, ini berguna baik pada saat pasien di rawat maupun saat pasien keluar Rumah Sakit. Sangat mendukung untuk aplikasi kebutuhan homecare, survey kepuasan pasien, dan deteksi dini kambuhnya penyakit.
  3. Bagi Komunitas, dapat berupa pendidikan kesehatan, diskusi terkait kebijakan kesehatan, dll.
  4. Kebutuhan Internal Rumah Sakit, dapat berupa pengumuman kebutuhan ketenagakerjaan, kebutuhan donor darah maupun organ yang cukup darurat, dll.
  5. Penelitian dan survey, twitter memberikan fasilitas pencarian yang sangat luas, dan cukup dipermudah dengan adanya fasilitas mention (@) dan hashtag (#), ini dapat digunakan untuk mensurvei pola penyakit atau keluhan yang sering diderita oleh pasien. Hal ini salah satunya pada riset yang dilakukan oleh seorang konsultan marketing di Minneapolis, Russell Herder, yang menyatakan bahwa konsumen (pasien) mulai sering membagi informasi kesehatannya dalam jejaring social, sehingga diperlukan pendampingan oleh petugas kesehatan untuk memberi arahan yang tepat.
  6. Monitoring Pasien dan Aplikasi Medis: dalam hal ini dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan pasien langsung, mengirimkan dan mempublikasikan data, catatan harian pasien, mengirimkkan hasil lab, mengirimkan hasil pengkajian keperawatan pada EMR (Electronic Medical Record) yang digunakan, melacak diet pasien, mengikuti trend penyakit yang diderita pasien, memonitor gerakan janin (dengan meminta Ibu hamil mengirim twitter setiap merasakan tendangan janin), melacak gula darah pasien.

Hambatan dan Tantangan

Tidak dapat dipungkiri, masih banyak rumah sakit yang enggan untuk menggunakan media sosial sebagai alat komunikasi, karena mereka berpikir aplikasi tersebut adalah pelanggaran kerahasiaan pasien. Selain itu, rumah sakit perlu untuk menjaga citra publik mereka, akan adanya kemungkinan kritik dari pasien akan pelayanan rumah sakit yang buruk, yang disampaikan melalui media sosial. Selain itu, Rumah sakit juga harus membekali perawatnya dengan penguasaan teknologi, dan seringkali pola pikir lama bahwa kampanye melalui jejaring social semacam twitter dianggap tidak member keuntungan secara cepat masih dianut banyak pemegang kebijakan Rumah Sakit.

Namun ada satu rumah sakit yang telah sepenuhnya melakukan perubahan terkait pemanfaatan jejaring sosial. Mayo Clinic, yang berlokasi di Rochester, Minn, memberi pelayanan non-profit terbesar melalui penggunaan jejaring sosial. Filosofi mereka adalah “kebutuhan pasien  adalah yang pertama.” Dan memang itu yang mereka lakukan. Mayo Clinic telah membuka Pusat Jejaring sosial yang akan melatih organisasi kesehatan untuk menggunakan Twitter, Youtube, dan Facebook melalui konferensi dan lokakarya – disebut “Tweetcamp” – sehingga mereka dapat berkomunikasi dengan pasien dan masyarakat secara langsung,  tidak seperti sebelumnya. Penggunaan jejaring sosial telah membantu menghilangkan inefisiensi seperti antrian jadwal kontrol, kurangnya interaksi dokter-pasien maupun perawat-pasien, dan kurangnya pendidikan kesehatan masyarakat, dan tindakan preventif maupun deteksi dini yang diperlukan pasien, yang semuanya penting dalam optimalisasi proses keperawatan. Kurangnya komunikasi perawat-pasien terkait tindakan preventif maupun deteksi dini penyakit, dapat menyebabkan melonjaknya biaya  perawatan, seperti tindakan operasi dan pemberian obat yang berisiko tinggi. Beban prosedur ini menyebabkan mahalnya biaya perawatan, dan solusinya dapat dilakukan melalui reformasi kebijakan rumah sakit terkait pemanfaatan social media. Mayo Clinic merupakan contoh organisasi Rumah sakit yang mengantarkan pada ke generasi Twitter, dimana fasilitas perawatan dapat datang kepada Anda dalam satuan waktu tweet🙂

Kepustakaan:

Boulos M.N., Wheeler S. (2007). The emerging Web 2.0 social software: an enabling suite of sociable technologies in health and health care education. Health Info Libr J. 2007 Mar;24(1):2–23. [PubMed]

Evans, Roger. (2011). Reviews. The nurse’s social media advantage — how making connections and sharing ideas can enhance your nursing practice. Nursing Standard (NURS STAND), 2011 May 25-31; 25(38): 31

Fyffe T. (2009). Nursing shaping and influencing health and social care policy. Journal Of Nursing Management [J Nurs Manag] 2009 Sep; Vol. 17 (6), pp. 698-706.

Hader AL , Brown ED. (2010). LEGAL BRIEFS. Patient Privacy and Social Media. AANA Journal (AANA J), 2010 Aug; 78(4): 270-4 (26 ref)

LPN to RN. (2009). 101 yays to use twitter in your hospital. Diakses dari http://www.lpn-to-rn.net/blog/2009/101-ways-to-use-twitter-in-your-hospital/ pada tanggal 7 Nopember 2011 pukul 20.00

Lukes CA. (2010). Social media. AAOHN Journal: Official Journal Of The American Association Of Occupational Health Nurses [AAOHN J] 2010 Oct; Vol. 58 (10), pp. 415-7

Marrlott P ; Mostyn N. (2010). Management series. How you can use social media to solve staff shortages. Nursing & Residential Care (NURS RESIDENTIAL CARE), 2010 Sep; 12(9): 456-7

Ohio Nurses Review. (2011).Issues & answers. Social media: implications for nursing: nursing practice statement NP 85. Ohio Nurses Review (OHIO NURSES REV), 2011 Mar-Apr; 86(2): 6-7 (5 ref)

Ressler, Pamela Katz ; Glazer, Greer. (2011). Nursing’s engagement in health policy and healthcare through social media. Nevada RNformation (NEV RNFORMATION), 2011 Feb; 20(1): 18

Saver C. (2010). Tweeting, posting, and Yammering: the role of social media in the OR. OR Manager (OR MANAGER), 2010 Feb; 26(2): 1, 12-4 (5 ref)

Skiba, Diane J. (2011). Nursing Education 2.0: The Need for Social Media Policies for Schools of Nursing. Nursing Education Perspectives (NURS EDUC PERSPECT), 2011 Apr; 32(2): 126-7 (6 ref)

World of Irish Nursing & Midwifery. (2010). Nursing services director joins Facebook and Twitter social media revolution. World of Irish Nursing & Midwifery (WORLD IR NURS MIDWIFERY), 2010 Sep; 18(8): 13

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: